Bahagia itu
Sederhana...
Namaku Rubi Kalana, panggil saja lana, Usiaku 19 tahun.
Bapkku seorang pengusahai di kota tetangga,ibuku seorang petani,
Sekarang aku kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di kota tempat
tinggalku.
Aku terkenal ceria,cerewet dan supel.
![]() |
| Add caption |
Sejak kecil aku menyukai
dunia seni,apa yag aku fikirkan selalu tertuang dalam sebuah puisi,cerpan maupu
novel dan sebuah kerajinan tangan.
Suatu hari aku bertanya pada ibuku,kenapa beliau lebih menyukai menjadi
seorang petani? Padahal seorang petani itu sering kali di pandang rendah,dan
kenapa beliau tidak ikut berbaur dalam menjalankan usaha bapak..?,
Ibu pun menjawab “Ibu dari kecil sudah terbiasa hidup seperti ini nak,penuh
dengan kesederhana’an,bukankah ibu juga selalu mengajari kamu,jika kamu ingin
meraih sesuatu berusahalah semampumu sendiri dan jangan bergantung pada orang
lain.”
Cerita ibuku padaku..., nafasku terhelai dengan haru mendengar ibuku,baru
tersadar jika ibuku seeorang perempuan yang hebat.
Bapakku memang jarng
pulang,mungkin 1minggu hanya 1hari beliau ada dirumah kami memakluminya bapak
sibuk dengan pekerjaannya.
Suatu hari bapakku pulang,kami sambut dengan senyuman ceria,dilanjut dengan
makan malam bersama.
Selang beberapa waktu ibuku bercerita kepadaku atas kebangkrutan bapakku
dan aku hanya bisa diam,berteman angin dingin aku hanya merajut
kenangan-kenangan senyuman kebahagiaan bapakku atas segala kesuksesan usahanya
dulu,
Kulihat dibalik tembok bapakku tersandar dalam kesedihannya,
tetesan air mata bapakku mengantarkanku ingin memeluk bapak,namun ketika
kaki ini melangkah terdengar ibu memanggilku,bergegas ku temui ibu dan ku
dengarkan segelintir nasehat beliau,”sayang...inilah yang ibu maksud,hidup
selamanya takkan ada di atas,roda kehidupan terus berputar,ibu selalu membekalimu
dengan kesederhana’an agar sekarang maupun kelak kamu mengerti tentang
kehidupan,
bukan rumah besar,mobil mewah dan harta melimpah sumber dari segala
kebahagiaan,karena sesungguhnya bahagia itu sederhana,ibu bisa bertani itu
bukan karena apa-apa, ibu Cuma manu megajari kamu bagaimana susahnya mencari
uang”
Nasehat ibuku..
Kemudian dirangkul aku oleh jari-jari lembut bapakku dan beliau berkata,
“Benar sayang apa yang dikatakan ibumu dan bapak menangis bukan karena
bapak kehilangan semua,bapak menangis terharu atas kegigihan kalian dalam
bekerja keras dan tidak mau bergantung pada bapak,sejak masuk perguruan tinggi
kamu sudah bisa membiayai kuliahmu sendiri dari hasil tangan-tangan mungilmu
hadiah terindah dari Tuhan,bapak bangga sama kamu sayang”.
Dalam satu pelukan kami menangis terharu akan indahnya kehidupan ini,
Bahwa sesungguhnya karunia Tuhan tidak pernah berhenti mengalir untuk kita,
Asal kita mau selali berusaha dan ber do’a.
Kini hari-hari kami lebih
berwarna dengan adanya bapak yang setiap hari ada dirumah,keluarga kecil kami
terasa sangat lengkap.
Sekrang bapakku menjadi seorang petani yang sukses dan aku menjadi seorang
seniman yang selalu mencoba hal baru.
Hidup ini sangat indah jika
kita selalu mensyukuri apa yang ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar